Portscape = Portrait Landscape by Yadi Yasin

Dalam photography, banyak dari kita yang yang begitu mendengar kata landcsape, apa yang terpikir atau yang terbayang adalah sebuah foto pemandangan alam yang merepresentasikan suatu view yang seluas-luasnya. Biasanya untuk mencapai tujuan tersebut, cara seorang fotografer untuk mendapatkan pemandangan yang luas yang ada dihadapan matanya adalah memotret dengan memasang kamera berorientasi horizontal (atau landscape).

Memang dengan memotret landscape dengan berorientasi horizontal/landcsape, pada umumnya kita akan mendapatkan suatu hasil foto yang secara baik (dan secara luas) mereprentasikan tempat tersebut. Bahkan kadang untuk lebih memperkuat “luasnya” suatu pemandangan, kita melakukan “panoramic” capture, atau foto kita crop sehingga berformat panoramic.

Dan kita dgn mudah menerima persepsi tersebut, krn selain mata kita pun juga terbiasa melihat dunia ini secara “berformat horizontal”, sudah “manusiawi” pula kalau kita tiba pada suatu tempat yang kita lakukan adalah melihat dan melakukan observasi pemandangan tersebut dari kiri ke kanan atau kanan ke kiri, dan hampir tidak pernah atau jarang dari bawah ke atas atau dgn kata lain hampir tidak pernah melihat dari ujung kaki kita kearah ke langit. Mungkin hanya kalau kita berdiri diatas tebing atau kita melihat kebawah karena menghindari lubang atau halangan lainnya maka baru kita melakukan observasi melihat kebawah ke dekat ujung kaki kita.

Disinilah sebuah pendekatan tentang fotografi landscape yang sedikit bertentangan dgn ensensi dari “landscape” itu sendiri, yaitu Portscape atau Portrait Landscape. Pada Portscape, yang ingin kita dapatkan adalah bukan untuk mendapatkan view yang luas seluas-luasnya, sebaliknya yang kita inginkan adalah mendapatkan kedalaman/depth atau sepotong view, karena pada intinya kita meng-crop suatu landscape format view menjadi potongan-potongan vertikal. Kita mencari suatu pola atau komposisi vertikal pada suatu landscape view.
Pada Portscape, adalah bagaimana kita bisa mem-visualisasikan landscape yang terpenggal secara vertikal. Saat melihat sebuah Portscape, mata kita pun di paksa untuk melihat dari bawah (FG) hingga keatas.

Konsep Portscape bukan sesuatu hal yang baru, hanya seperti pada umumnya, penerapan dan pemakaiannya termasuk jarang. Ini terbukti kalau kita membuka galery FN pada katogori landscape, maka bisa dibilang hanya 10-15% saja foto-foto yang masuk dalam kategori landcsape yang berformat “portrait”. Begitu juga kalau kita mencermati website-website lain untuk foto2 landscapenya. Bahkan definisi landscape photography di wikipedia pun menggunakan contoh foto berformat standard yaitu horizontal.
Iklan-iklan dari berbagai merek kamera/lensa saat mereka memperkenalkan/mempopulerkan sebuah lensa wide/super wide baru pun selalu menggunakan foto2 landscape berformat tradisional. Padahal dengan lensa lebar/super-wide, sebuah Portscape akan memberikan efek visualisasi yang dasyat.
Stereotype seperti ini membuat Portscape menjadi kurang dimengerti dan kurang diterapkan dalam fotografi Landscape.

Seperti yang saya sebutkan pada 14 Tips memperbaiki landcape anda pada point #11, dengan mengganti orientasi dari horiontal/landcsape menjadi portrait memberikan kita banyak kesempatan dan opsi untuk mendapatkan foto yang lebih banyak dan lebih variatif. Sehingga hanya dalam satu spot kita bisa mendapatkan lebih banyak foto.

Jadi apa yang kita cari dan bagaimana menemukan sepenggal potongan vertikal pada sebuah landcsape horizontal untuk bisa mendapatkan sebuah Portscape yang baik?
Enam point berikut dibawah bisa dipergunakan sebagai panduan:

<foto #1>

1. Portscape is about the “Depth”

Seperti yang saya sebutkan diatas, Portscape adalah usaha mendapatkan kedalaman ruang (depth) dari sepenggal landcsape view. Untuk mendapatkan kedalaman ruang tersebut kita bisa menggunakan aturan “rule-of-third” sebagai acuan untuk membagi frame menjadi 3 bagian, yaitu bagian yang terdekat (FG), menengah (BG), dan yang terjauh (Horizon atau langit). Proporsi yang diperuntukan untuk ke-3 bagian ini sedapat mungkin akan merepresentasikan kedalaman ruang dari suatu landscape view yang luas.
Untuk penjelasan lebih lanjut tentang aturan “rule-of-third”, silahkan lihat disini

<foto #2>

Seperti pada contoh foto diatas maupun dibawah ini, keduanya spot di Belitung, saya mengikut sertakan batu/karang dimana saya berpijak untuk mendapatkan “kedalaman” dekat-sedang-jauh-nya.

<foto #3>

Perhatikan juga bahwa untuk suatu yang simpel seperti kedua foto tersebut, pembagian 3 bagian “dekat-sedang-jauh” sesuai dgn aturan “rule-of-third” juga diterapkan disini (dan banyak contoh foto-foto lainnya di thread ini). Sedapat mungkin sisakan bagian langit (walau hanya sedikit) untuk masuk dalam bagian “jauh”nya.
Kedua contoh foto diatas juga menunjukan pemakaian Hyperfocal distance agar bisa begitu dekat dengan FG atau tanah/karang yang kita pijak.

<foto #4>

2. Portscape is in the “FG (ForeGround)”

Elemen yang sangat mendukung sebuah Portscape adalah sebuah FG yang baik. Dengan membiasakan diri untuk tidak hanya melakukan observasi dengan melihat dari kiri- -> kanan atau kanan -> kiri, tapi juga dari bawah (sekitar ujung kaki kita) hingga ke atas langit kita akan terbiasa untuk mencari sesuatu di tanah/daratan disekitar kita berdiri yang bisa kita manfaatkan sebagai FG.

<foto #5>

Shape and colors in the FG. Foto diatas #5 dan dibawah ini di ambil di Dreamland – Bali.

<foto #6>

Dengan pemilihan angle yang baik, sebuah object di FG bisa menjadi menarik

<foto #7>

3. Portscape is about “Detail”

Berhubungan dengan #2 diatas, dengan mencari detail yang “kuat” untuk diletakkan sebagai bagian dari FG dapat menentukan suskes tidaknya sebuah Portscape. Detail tersebut bisa apa saja, baik berujud benda seperti batu, karang, kayu dan benda lainnya, tapi juga berupa “leading lines”, yaitu bentukan/pattern alami/non-alami yang membuat pola teratur yang akan membawa/menggiring mata kita dari FG menuju keseluruhan foto.

<foto #8>

“Strong detail” dari FG akan tidak hanya akan membuat membuat ketertarikan foto pada first-eye-contact atau pandangan mata pertama pada foto, tapi bisa juga dapat menjadi POI dari foto tersebut. Foto diatas #8 dan dibawah ini diambil di Sulamadaha – Ternate.

<foto #9>

Leading lines pada FG

<foto #10>

Pattern pada FG

<foto #11>

4. Portscape is about “Composing Objects”

Hampir pada semua genre fotografi, sebuah komposisi yang kuat akan secara overall menentukan “baik” tidaknya sebuah foto disamping tentu saja faktor2 lain. Walaupun bukan sesuatu yang mutlak, sebuah komposisi yang baik akan memperkuat POI dan object2 yang ada dalam frame.

Dengan keterbatasan “ruang” pada sebuah Portscape, mengkomposikan object2 yang ada dalam frame akan membuat foto Portscape kita akan terlihat lebih baik terutama jika object yang kita gunakan di FG bukan merupakan pattern atau shape, tapi lebih merupakan single object atau kumpulan object yang dominan.
Selain memanfaatkan aturan baku rule-of-third, salah satu cara adalah dgn meletakan object tersebut pada pojok kiri atau kanan di FG, atau bersifat melintang terhadap keseluruhan frame, yang kadang di-istilahkan “Cross Compose”.
Untuk mendapatkan cross-compose, kita harus memposisikan diri atau mengatur angle untuk membuat cross-compose.
Untuk object2 yang “moveable”, kadang pengaturan cross-compose harus kita “bantu sedikit” dengan mereposisikan object tersebut 😀

<foto #12>

Cross-compose dimana object mendapatkan “sedikit bantuan” agar object bintang laut mempunyai komposisi silang dgn gunung di BG. Cross-compose akan membantu “menyeimbangkan” foto agar tidak berat pada satu sisi.

<foto #13>

Untuk menggamblangkan apa yg dimaksud dgn cross-compose.

<foto #13A>

Jangan lupa foto tersebut juga menerapkan aturan rule-of third, baik secara horizontal maupun vertical

<foto #13B>

Saya memang suka membantu bintang laut memposisikan dirinya 😀

<foto #14>

Secara tidak langsung, contoh foto #7, #9 dan #10 pun adalah bentuk cross-compose. Sedapat mungkin carilah cross-compose saat eksekusi/pemotretan, dan bukan hasil crop nantinya di komputer.

Photo #7: Angle diambil sedemikian rupa agar sisi batu memanjang membentuk cross-compose

Photo #9: Angle diambil sedemikian rupa agar kumpulan batu yg dominan (krn terkena lighting matahari) berada dikiri bawah frame utk mendapat cross-compose dgn matahari terbitnya.

Photo #10: Tangga tidak saja sebagai leading lines tapi juga otomatis membentuk cross-compose.

<foto #15>

Bentuk komposisi silang lain

<foto #16>

Bahkan untuk suatu object memanjang apapun spt perahu misalnya yang kita ambil vertikal, cross-compose akan terlihat lebih cantik untuk suatu format portrait.

<foto #17>

Carilah sesuatu, baik itu object atau bentukan alam yang awalnya bisa kita posisikan pada pojok bawah frame, baik dikiri atau dikanan.

<foto #18>

Pada saat saya akan memotret step pyramid di Sakhara ini, saya menemukan kesulitan untuk mengambil secara Portscape krn di luasnya gurun (hanya pasir) hampir tidak ada object yg cukup besar dan dominan yg dapat dipergunakan di FG. Batu kecil pun dipadu dgn gundukan pasir dgn pengambilan yg close-up dan cross-compose bisa cukup membantu.Sebetulnya ada banyak kekurangan pada foto ini, krn foto ini tidak merepresentasikan sense of scale dgn baik dgn tidak adanya object pembanding lain untuk mengetahui seberapa besarnya sebetulnya Sakhara pyramid ini.

<foto #19>

Kadang cross-compose itu tidak perlu “diatur” tapi kita yang mengatur angle dan posisi kita berdiri agar cross-compose didapat

<foto #20>

Contoh lain pada keadaan yg agak sulit utk mendapatkan cross-compose, tapi masih bisa di-improvisasi utk mendapatkannya dan juga rule-of third masih bisa diaplikasikan dgn gamblang.
Pada contoh foto dibawah ini, jelas semua object adalah unmoveable, jadi kitalah yang harus mengatur posisi berdiri (atau posisi tripod) agar didapat komposisi silang yg baik.

<foto #21>

Worst case: Contoh lain, dengan situasi lapangan yg lebih sulit, dgn object yg terlalu cluttered/berserakan. Cobalah selalu untuk menemukan leading line, kadang walau samar dan tidak jelaspun akan cukup membantu.

<foto #22>

Jika cross-compose tidak berjalan, pada keadaan tertentu dead-center tidak mutlak ditabukan untuk diterapkan seperti pada foto #6.
Kalau kepepet, bayangan diri sendiri pada posisi dead-center juga OK 😛

<foto #23>

Bahkan pelanggraran rule-of third, sangat dead-center dan sangat off-compo juga kadang2 sekali-kali bisa diterapkan.

<foto #24>

catatan: Cross-compose tidak hanya layak diaplikasikan pada Portscape, tapi pada traditional horizontal landcsape pun juga bisa digunakan.

<foto #25>

5. Portscape is about “Searching for Cropped Landscape”

cropping disini adalah bukan dalam arti sesungguhnya, dimana foto landscape berformat horizontal kemudian kita crop dikomputer sedemikian rupa sehingga menjadi menjadi berformat portrait. Tapi lebih kepada kita mencoba mencari foto yang berbeda, bisa dengan langsung berubah orientasi atau dengan zoom in/zoom-out atau mengganti dengan lensa dgn focal lenght yang lebih panjang untuk mencari dan mendapatkan detail dari suatu landscape dalam bentuk format portrait.
Sebuah contoh yang sering saya lakukan adalah setelah mendapatkan beberapa shot dalam format landscape/horizontal dengan lensa lebar (wide) atau super wide, saya mulai mencari detail apa yang bisa saya dapat dengan menggunakan lensa panjang atau tele.

Banyak cara untuk mem-visualisasikan sebuah Portscape, misalnya dengan langsung merubah orientasi dari landscape ke portrait, kita bisa mencoba dan mendapatkan Portsacpe.
Foto #9 sebetulnya adalah sebuah Portscape dari foto #25. Tentu saja dengan langsung mengubah orientasi kamera kita dr landspace->portrait, kita juga sebaiknya melakukan adjustment komposisi atau bahkan ubah posisi kita berdiri agar sebuah cross-compose juga bisa didapat, krn biasanya tidak serta-merta sebuah (atau kumpulan) object yg dominan bisa langsung berada di pojok kiri bawah (atau kanan bawah).

<foto #26>

Contoh berikut <foto #27> adalah sebuah cropped Portscape yg didapat dgn juga mengubah orientasi dari <foto #28>. Jika anda lihat exifnya, maka baik pada <foto #27> maupun <foto #28> saya menggunakan focal lenght 16mm. Saya tidak melakukan perubahan/pergantian lensa disini (tetap menggunakan lensa 16-3mm). Posisi tripod/berdiri pun tidak terlalu banyak berubah.

<foto #27>

<foto #28>

Foto dibawah adalah overall view dari suatu scene pada focal lenght 26mm (menggunakan lensa 16-35) dengan orientasi landscape.

<foto #29>

Dengan mengganti ke lensa zoom/tele (70-200), pada foto dibawah ini pada focal lenght 200mm, maka saya mencari detail dari sebuah landcsape view dari foto diatas (perhatikan area di dalam kotak kuning pd foto diatas).
Saat “browsing” dgn lensa tele, biasanya saya menggunakan focal lenght 70mm sebelum zoom-in ke focal lenght yg lebih panjang untuk mengcapture detailnya. Biasanya juga posisi kita berdiri juga harus banyak berubah (baik dgn geser kekiri/kekanan jika secara komposisi tidak baik atau krn ada object lain yg menghalangi atau object yg tidak ingin kita masukkan dalam frame) untuk mendapatkannya.

<foto #30>

Selain dari mencari detail Portscape dari sebuah foto berformat landscape seperti diatas, kita pun bisa mencari Portscape detail dari sebuah Portscape lain yg lebih “luas” Foto dibawah sebuah Portscape dengan lensa lebar 16-35 dgn posisi focal lenght pada 16mm.

<foto #31>

Masih dengan posisi yang sama, dan posisi/spot tripod yang hampir tidak berubah dari foto #31 diatas, sebuah portscape lain bisa didapat dengan menggunakan lensa panjang 70-200, pada focal lenght 93mm (perhatikan kotak kuning pada foto diatas)

<foto #32>

Contoh lain lagi, sebuah spot di Danau Maninjau – Sumatra barat.

<foto #33>

6. Portscape is about “Strong Vertical POI”

Selain dari ke-5 poin diatas, jika suatu POI yang mempunyai bentuk vertical yang sangat kuat, sebuah object bentukan alam, baik itu pohon, tebing atau apapun, bisa berdiri sendiri dalam frame sehingga sebagai sebuah entitas tunggal tidak lagi membutuhkan detail FG yang kuat (atau hanya menyisakan FG sedikit) dan bisa pula tanpa langit atau menyisakan langit sedikit saja. Atau dapat pula berdiri sendiri dengan BG langit yang kosong tanpa detail.
Dengan keadaan seperti itu, peletakan POI dead-center justru akan menguatkannya.

<foto #34>

Yang perlu diperhatikan adalah angle pengambilan sehingga object vertical tersebut tidak dilemahkan krn adanya overlap dengan BG-nya. Pada foto #34 diatas dan foto dibawah, diusahakan agar horizon bisa terletak cukup jauh kebawah, dan tidak ada object lain di BG yang akan overlap dgn object vertical tersebut. Usahakan juga BG langitnya cukup bersih dan tidak membuat object utamanya “kalah”. Keep it simple.
Contoh lain.

<foto #35>

Sebuah detail atau pattern pun bisa berdiri sendiri sebagai strong vertical POI. Tidak dibutuhkan adanya BG langit disini.

<foto #36>

Sekian. Terima kasih, semoga membantu, menyemangati dan mencerahkan untuk terus memotret. Saya yakin di tahun2 kedepan, kamera kita akan semakin canggih, tapi itu bukan berarti kita kemudian berhenti untuk berkonsep dan berpikir sebelum tombol rana ditekan, apapun genre fotografi yg kita sukai/tekuni.

Ada kumpulan sekitar 1400-an foto-foto Portscape di link Flickr ini yang bisa dilihat, baik sebagai referensi pembanding atau sekedar hiburan mata.

Sumber

This entry was posted in Photography and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


two × = 14