Rule of Thirds

Salah satu aturan dalam dunia fotografi adalah Rule of Thirds atau aturan segitiga.
Rule of Thirds atau aturan sepertiga adalah aturan yang sebaiknya diikuti oleh orang yang baru memulai belajar tentang dunia fotografi. Aturan sepertiga adalah membagi 3 bagian horisontal dan vertikal sama besar sehingga terbagi menjadi 9 bagian (lihat gambar).

Continue reading

Posted in Photography | Tagged , , | Leave a comment

Bokeh

Tanya : Apasih yang dimaksud dengan bokeh?
Jawab : Bokeh adalah daerah blur/out of focus pada suatu foto, lebih detilnya search aja di internet

Tanya : Bagaimana cara membuat bokeh? Continue reading

Posted in Photography | Tagged | Leave a comment

Segitiga Exposure (Exposure Triangle)

Apa itu segitiga exposure?
Segitiga exposure atau exposure triangle adalah diagram sederhana yang menggambarkan hubungan antara ISO, Shutter Speed, dan Aperture dengan eksposure (terang gelapnya) foto. Kalau kebanyakan cahaya yang masuk, hasilnya jadi terlalu terang (over exposure / OE). Kalau sedikit cahaya yang masuk ya hasilnya gelap (under exposure / UE).

Continue reading

Posted in Photography | Tagged , , , , , , , , , , | Leave a comment

Portscape = Portrait Landscape by Yadi Yasin

Dalam photography, banyak dari kita yang yang begitu mendengar kata landcsape, apa yang terpikir atau yang terbayang adalah sebuah foto pemandangan alam yang merepresentasikan suatu view yang seluas-luasnya. Biasanya untuk mencapai tujuan tersebut, cara seorang fotografer untuk mendapatkan pemandangan yang luas yang ada dihadapan matanya adalah memotret dengan memasang kamera berorientasi horizontal (atau landscape).

Memang dengan memotret landscape dengan berorientasi horizontal/landcsape, pada umumnya kita akan mendapatkan suatu hasil foto yang secara baik (dan secara luas) mereprentasikan tempat tersebut. Bahkan kadang untuk lebih memperkuat “luasnya” suatu pemandangan, kita melakukan “panoramic” capture, atau foto kita crop sehingga berformat panoramic.

Dan kita dgn mudah menerima persepsi tersebut, krn selain mata kita pun juga terbiasa melihat dunia ini secara “berformat horizontal”, sudah “manusiawi” pula kalau kita tiba pada suatu tempat yang kita lakukan adalah melihat dan melakukan observasi pemandangan tersebut dari kiri ke kanan atau kanan ke kiri, dan hampir tidak pernah atau jarang dari bawah ke atas atau dgn kata lain hampir tidak pernah melihat dari ujung kaki kita kearah ke langit. Mungkin hanya kalau kita berdiri diatas tebing atau kita melihat kebawah karena menghindari lubang atau halangan lainnya maka baru kita melakukan observasi melihat kebawah ke dekat ujung kaki kita.

Disinilah sebuah pendekatan tentang fotografi landscape yang sedikit bertentangan dgn ensensi dari “landscape” itu sendiri, yaitu Portscape atau Portrait Landscape. Pada Portscape, yang ingin kita dapatkan adalah bukan untuk mendapatkan view yang luas seluas-luasnya, sebaliknya yang kita inginkan adalah mendapatkan kedalaman/depth atau sepotong view, karena pada intinya kita meng-crop suatu landscape format view menjadi potongan-potongan vertikal. Kita mencari suatu pola atau komposisi vertikal pada suatu landscape view.
Pada Portscape, adalah bagaimana kita bisa mem-visualisasikan landscape yang terpenggal secara vertikal. Saat melihat sebuah Portscape, mata kita pun di paksa untuk melihat dari bawah (FG) hingga keatas.

Konsep Portscape bukan sesuatu hal yang baru, hanya seperti pada umumnya, penerapan dan pemakaiannya termasuk jarang. Ini terbukti kalau kita membuka galery FN pada katogori landscape, maka bisa dibilang hanya 10-15% saja foto-foto yang masuk dalam kategori landcsape yang berformat “portrait”. Begitu juga kalau kita mencermati website-website lain untuk foto2 landscapenya. Bahkan definisi landscape photography di wikipedia pun menggunakan contoh foto berformat standard yaitu horizontal.
Iklan-iklan dari berbagai merek kamera/lensa saat mereka memperkenalkan/mempopulerkan sebuah lensa wide/super wide baru pun selalu menggunakan foto2 landscape berformat tradisional. Padahal dengan lensa lebar/super-wide, sebuah Portscape akan memberikan efek visualisasi yang dasyat.
Stereotype seperti ini membuat Portscape menjadi kurang dimengerti dan kurang diterapkan dalam fotografi Landscape.

Seperti yang saya sebutkan pada 14 Tips memperbaiki landcape anda pada point #11, dengan mengganti orientasi dari horiontal/landcsape menjadi portrait memberikan kita banyak kesempatan dan opsi untuk mendapatkan foto yang lebih banyak dan lebih variatif. Sehingga hanya dalam satu spot kita bisa mendapatkan lebih banyak foto.

Jadi apa yang kita cari dan bagaimana menemukan sepenggal potongan vertikal pada sebuah landcsape horizontal untuk bisa mendapatkan sebuah Portscape yang baik?
Enam point berikut dibawah bisa dipergunakan sebagai panduan:

<foto #1>

Continue reading

Posted in Photography | Tagged , , , | Leave a comment

14 Tips untuk memperbaiki foto Landscape by Yadi Yasin

Mungkin tips-tips ini ada yang terkesan kuno, oldies dan kurang “revolutionized” tapi mungkin ini adalah tips-tips dasar yang bisa dipergunakan sepanjang masa, terutama bagi yang ingin memulai mendalami Landscape Photography.
Dari tips-tips dibawah akan juga menyinggung beberapa hal lain, seperti Rule of Third, Hyperfocal distance, dll yang hanya dijelaskan singkat krn bisa menjadi satu topik sendiri.
Lihat di pengaplikasian Hyperfocal distance dalam landscape.
Semoga berguna.

Continue reading

Posted in Photography | Tagged , , , , | Leave a comment

Hyperfocal distance dan pemanfaatannya dalam Landscape Photography by Yadi Yasin

Topik dan penjelasan tentang Hyperfocal Distance (Jarak hiperfokal) ini dibuat sebagai penunjang dari topik 14 Tips untuk memperbaiki/improve foto Landscape anda, terutama tentang point 4. Carilah Foreground (FG), dimana di topik tersebut hanya disinggung sedikit tanpa penjelasan dan juga adanya pertanyaan ttg hal ini dan dari respons di topik tersebut.

Definisi Hyperfocal Distance

Penjabaran pertama yang mudah dari hyperfocal distance atau Jarak Hiperfokal adalah: jarak dari lensa ke suatu titik focus dimana dari titik focus tersebut ke infinity (tak terhingga) adalah tajam. Ditambah dgn bonus: setengah dari jarak dari titik tersebut kearah lensa juga ikut tajam (acceptable sharpness).

Kenapa saya sebut bonus? Karena sebetulnya kita meletakkan titik focus dari kamera/lensa kita pada titik jarak hiperfocal tersebut untuk mendapatkan bidang DOF (depth of field) seluasnya dari titik/jarak tersebut ke infiniti tapi krg lebih setengah jarak dari titik tersebut kedepan (kearah) lensa juga ikut tajam dalam batasan acceptable sharpness (ketajaman yang masih bisa diterima).

Dari Gambar ilustrasi pertama dibawah, Kalau kita mengintip dari viewfinder dan meletakkan titik focus pada titik A, maka dari titik A tersebut hingga infiniti akan masuk dalam bidang DOF (depth of field) atau sering disebut juga bidang tajam. Tapi kita juga mendaptakan bonus ketajaman yaitu setengah jarak dari titik A ke arah lensa juga ikut tajam. Atau dengan kata lain, dari titik B ke infiniti akan tajam.

Penjabaran kedua dari hyperfocal distance adalah: jarak dari lensa ke suatu titik dimana dari titik tersebut kedepan akan tajam jika lensa difocuskan pada titik infinity. Dengan kata lain dari titik tersebut hingga infiniti akan tajam

Continue reading

Posted in Photography | Tagged , , , , , | Leave a comment